Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Saturday, February 04, 2012

Cinta Rasulullah Terhadap Umat Baginda

12 Rabiu'l Awal . Assalamualaikum

يَا نَبِي سَلاَمٌ عَلَيْكَ يَا رَسُوْل سَلاَمٌ عَلَيكَ يَا حَبِيْبُ سَلاَمُ عَلَيْكَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْكَ

Salam Maulidir Rasul untuk junjungan Baginda s.a.w. Sempena Maulidur Rasul malam ini , penulis ingin berkongsi kisah cinta antara Baginda dengan kita .

Cerita ini penulis hanya copy , paste . Maaf , penulis tidak pandai mengarang . :)

Kisah Cinta yang pertama , rindu Baginda terhadapa kita ; umat akhir zaman

Suasana di majlis pertemuan itu hening sejenak. Semua yang hadir diam membatu. Mereka seperti sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi Saidina Abu Bakar.

Itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihi melafazkan pengakuan demikian.

Seulas senyuman yang sedia terukir dibibirnya pun terungkai.

Wajahnya yang tenang berubah warna.

"Apakah maksudmu berkata demikian wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu? " Saidina Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mula menyerabut fikiran.

"Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku (ikhwan)," suara Rasulullah bernada rendah.

"Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah," kata seorang sahabat yang lain pula.

Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum.


Kemudian baginda bersuara, "Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku sebagai Rasulullah dan mereka sangat mencintaiku. Malahan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan orang tua mereka."


Pada ketika yang lain pula, Rasulullah menceritakan tentang keimanan 'ikhwan' baginda: "Siapakah yang paling ajaib imannya?" tanya Rasulullah.

"Malaikat," jawab sahabat.

"Bagaimana para malaikat tidak beriman kepada Allah sedangkan mereka sentiasa hampir dengan Allah," jelas Rasulullah.

Para sahabat terdiam seketika. Kemudian mereka berkata lagi, "Para nabi."

"Bagaimana para nabi tidak beriman, sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka."

"Mungkin kami," celah seorang sahabat.

"Bagaimana kamu tidak beriman sedangkan aku berada ditengah-tengah kau," pintas Rasulullah menyangkal hujah sahabatnya itu.

"Kalau begitu, hanya Allah dan Rasul-Nya sahaja yang lebih mengetahui," jawab seorang sahabat lagi, mengakui kelemahan mereka.


"Kalau kamu ingin tahu siapa mereka? Mereka ialah umatku yang hidup selepasku. Mereka membaca Al Quran dan beriman dengan semua isinya. Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman denganku. Dan tujuh kali lebih berbahagia orang yang beriman denganku tetapi tidak pernah berjumpa denganku," jelas Rasulullah.


"Aku sungguh rindu hendak bertemu dengan mereka," ucap Rasulullah lagi setelah seketika membisu.

Ada berbaur kesayuan pada ucapannya itu.

[ Sumber ; IluvIslam.Com ]

Kisah Cinta yang kedua , cinta terhadap umat Baginda

Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Ketika itulah, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah:


"Wahai umatku, kita semua berada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasihNya. Maka taati dan bertakwalah kepadaNya. Ku wariskan dua perkara pada kalian, al-Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-samaku."


Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah saw. yang tenang dan penuh minat menatap sahabat-sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap baginda dengan mata yang berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

"Rasulullah saw. akan meninggalkan kita semua,"keluh hati semua sahabat kala itu.

Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah saw. yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah saw. masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tetapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian dia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah saw. menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

"Ketahuilah anakku, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikat maut," kata Rasulullah saw..

Fatimah menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri Rasulullah lalu Baginda menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.

"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi.

"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

"Jangan khuatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Ku haramkan syurga bagi sesiapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat penghantar wahyu itu.

"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

"Ummatii, ummatii, ummatiii?" – "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.

[ Sumber ; IluvIslam.Com ]

Berdasarkan kedua-dua kisah di atas ,

Sebanyak mana kita mencintai Rasulullah sepertimana Rasulullah mendintai kita ?

Sebanyak mana kita merindui Rasulullah sepertimana Rasulullah merindui kita ?

Adakah kita hanya berselawat keatas Baginda haya pada Maulidur Rasul sahaja ?

Adakah kita hanya berkata " aku cinta Rasulullah" , tapi sebanyak mana kita mengikuti sunnahnya ?

Sebanyak mana kita mengetahui tentang kehidupan Baginda ketika Baginda masih hidup ? ketika Baginda berjuang bermati-matian menegakkan agama ? kita ?

Renung-renungkanlah saudara-saudariku , sebarkanlah apa yang Rasulullah perjuangkan sebelum ini walaupun satu ayat .


Wallahu'alam .

Monday, December 19, 2011

Keistimewaan Pembaca & Penghafaz Al-Qur'an


Sabda Nabi Muhammad S.A.W. melalui ;

Dari Ali Bin Abi Talib : " Barangsiapa yang membawa Al-Qur'an dan menghafaznya , ALLAH akan memasukkannya ke dalam syurga dan memberi hak Syafaat kepadanya untuk sepuluh anggota keluarganya . Mereka semua telah ditetapkan untuk masuk ke dalam syurga . "

- Ibnu Majah , Tarmizi -



Dari Abu Hurairah : " Tiada orang yang berkumpul di salah satu rumah ALLAH untuk membaca dan mempelajari Al-Qur'an kecuali mereka akan memperolehi ketenangan , diliputi rahmat , dikelilingi para malaikat dan nama mereka sentiasa disebut oleh ALLAH di kalangan para malaikat yang di langit . "

- Muslim , Tarmizi , Ibnu Majah , Abu Daud -



Dari Abdullah Ibnu Mas'ud : " Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitab ALLAH maka dia kan memperolehi satu pahala kebajikn dan setiap satu pahala itu digandakan sepuluh kali . Aku tidak mengatakan bahawa Alif , Lam , Mim itu satu huruf . Tetapi Alif itu satu huruf , Lam itu satu huruf dan Mim itu satu huruf . "

- Tarmizi , Ad-Darimi -



Dari Anas : " Sesungguhnya ALLAH mempunyai keluargha yang terdiri dari makhluk manusia lalu Rasulullah ditanya : " Siapakah mereka itu , Wahai Rasulullah ? " . Jawab Baginda : " Mereka ialah Ahlul Qur'an , Pembaca dan Penghafaz Al-Qur'an dan Pengamalnya . Mereka adalah keluarga ALLAH dan orang yang istimewa bagi-Nya . "

- Ahamad , Ibnu Majah , Ad-Darimi , Al-Hakim , An-Nasa'i -



Dari Abu Umamah bin Al-Bahili : " Bacalah Al-Qur'an . Sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat bagaikan memberi Syafaat kepada tuannya . "

- Muslim -



Dari Muaz bin Anas : " Sesiapa yang membaca Al-Qur'an dan beramal dengan apa yang terdapat di dalamnya , ALLAH akan memakaikan kedua ibu bapanya mahkota pada Hari Kiamat kelak . Cahaya mahkota tersebut lebih indah daripada cahaya matahari terhadap rumah-rumah yang ada dunia ini . Maka , apakah pandangan kamu tentang balasan yang akan diperolehi oleh orang yang membacanya sendiri ? "

- Abu Daud -

Saturday, December 17, 2011

Sedarlah Ketika Masih Diberi Waktu


Sabda rasulullah s.a.w : "Ya Allah, jauhkanlah antara diriku dengan dosa-dosa sepertimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah diriku dari dosa-dosa seperti mana bersihnya pakaian yang putih daripada kekotoran. Ya Allah, sucikanlah dosa-dosaku dengan air, salju dan air yang sejuk." (Daripada Abu Hurairah, Riwayat Bukhari & Muslim)



Pernahkah kita terfikir,apabila melihat dunia ini? Dunia yang indah,yang diciptakan oleh Allah kini tercemar dengan maksiat-maksiat yang dilakukan oleh manusia?

Pernahkah kita terfikir akan dosa-dosa yang pernah kita lakukan? Pernahkah kita berasa malu dengan Allah terhadap maksiat-maksiat yang kita lakukan sepanjang hidup kita? Kita diberi rezeki di dunia ini, tapi adakah kita mengerjakan apa yang diperintahkan oleh-Nya?

Cuba kita fikir, kalaulah kita mati sekarang, layakkah kita ke syurga? Kita patut bersyukur kerana masih lagi hidup di dunia ini dan masih dapat bertaubat dan beribadat kepada-Nya. Jadi, gunakanlah masa sebaik-baiknya, hidup di dunia hanya sementara, carilah pahala untuk akhirat nanti. Kita sekarang berada di dunia akhir zaman.

Selepas kedatangan Dajjal, dunia ini tidak lagi penuh dengan kemaksiatan. Hanya tinggal orang soleh dan benar-benar bertakwa kepada Allah sahaja. Jadi,fikir-fikirkanlah, adakah kita ini sebahagian daripada mereka?

Jika difikirkan kembali, alangkah baiknya kalau kita ini buta, pekak dan bisu. Kenapa?
Sesungguhnya orang-orang ini diberi kelebihan atau keistimewaan yang dikurniakan oleh Allah s.w.t.

Orang yang buta tidak akan dapat berzina melalui mata kerana dia tidak akan nampak aurat-aurat yang didedahkan oleh orang-orang yang tidak menjaga auratnya.

Orang yang pekak  dapat mengelakkan diri daripada zina telinga dan terjaga daripada  mendengar perkara-perkara yang tidak baik.

Orang yang bisu dapat  mengelakkan diri daripada menyebarkan fitnah,mengumpat,berzina melalui perkataan dan sebagainya.


Tapi, kita seharusnya bersyukur dengan pemberian Allah kepada kita pada hari ini, kerana kita dapat melihat dunia ciptaan Allah s.w.t yang indah ini.

Kita masih lagi dapat mendengar zikirullah, azan yang berkumandang dan sebagainya. Kita juga masih lagi dapat bercakap untuk menyebarkan dakwah serta membaca Al-Quran.

Jadi, butakanlah mata kita daripada melihat perkara-perkara yang mendatangkan zina atau dosa, bisukanlah suara kita daripada menyebarkan fitnah dan perkara-perkara yang tidak baik dilafazkan. Sesungguhnya orang yang menyebarkan fitnah seperti meratah daging saudara sendiri.

Pekakkanlah telinga kita daripada mendengar perkara-perkara yang tiada faedahnya dan dengarlah sesuatu yang mendatankan kecintaan  kita kepada pencipta kita, Allah s.w.t.

Lakukanlah perkara-perkara yang memantapkan lagi iman kita.

Carilah "harta" iaitu pahala yang boleh dibawa ke akhirat. Jauhilah dosa dan maksiat.

Berdoalah kepada Allah s.w.t yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui akan setiap pekara di atas dunia ini. Bertaubatlah selagi kita masih diberi waktu oleh Allah. Carilah cinta Allah s.w.t, satu-satunya cinta abadi yang tiada penipuan, kecewaan dan kekal.


Wallahu'alam

Sunday, December 11, 2011

Berdoalah

Kadang-kadang kita terlupa berdoa.
Bukanlah maksud saya, kita lupa berdoa dalam erti kata mengangkat tangan dan meminta kepada Allah.
Tetapi maksud saya, kita terlupa berdoa dengan bersungguh-sungguh, memahami makna doa kita, tahu apa yang kita minta dan yakin bahawa Allah mampu dan akan memakbulkannya.
Ya, kadang-kadang, kita terlupa berdoa.


Masa susah dan senang.
Kita kadangkala, kala susah, kita mudah mengadu kepada manusia. Kita mudah menceritakan semua masalah kita kepada mereka. Itu memeang satu perkara yang positif, berbanding daripada dipendam seorang diri begitu sahaja. Tetapi persoalannya, apakah kita telah mengadu kepada Allah dengan bersungguh-sungguh?


Pernahkah saat kita kesakitan, kita benar-benar berdoa kepada Allah: "Ya Allah, aku sakit. Sembuhkanlah."


Pernahkah saat kita sukar hendak mengajak seseorang kepada kebaikan, kita bersungguh-sungguh berdoa kepada Allah: “Ya Allah, aku sayang dia, aku nak ajak dia pada kebaikan, tetapi dia asyik lari daripada aku ya Allah. Lembutkanlah hatinya, dan ampunkanlah dosa aku sekiranya dosa aku yang membuatkannya menjauh.”

Pernahkah saat kita kesempitan, kita benar-benar berdoa kepada Allah: “Ya Allah, aku sempit. Lapangkanlah.”

Dengan penuh keyakinan bahawa Allah memang akan menyembuhkan kita, akan melembutkan hati dia, akan melapangkan kehidupan kita?

Tatkala senang pula, apakah pernah kita berdoa kepada Allah agar dikekalkan kesenangan kita? Pernahkah kita berdoa kepada Allah agar diluaskan lagi rezekiNya kepada kita? Apakah kita berdoa kepada Allah agar kita tidak tertipu dengan nikmat pemberianNya?

Kadang-kadang kita terlupa berdoa.

Sebab itu kita rasa seperti ‘terputus’.

Doa, ibarat tali layang-layang.
Keimanan adalah penghubung kita kepada Allah SWT. Manifestasi daripada keimanan adalah amal. Maka amalan adalah penghubung kita kepada Allah SWT. Kita buat, kita rasa keterikatan kita dengan Allah SWT. Kita solat, membaca Al-Quran, berzikir, tadabbur alam, melakukan kebaikan-kebaikan, semua itu mengikat jiwa kita dengan Allah SWT.

Dan doa, adalah kemuncak hubungan kita dengan Allah SWT sebenarnya.
Ya, kita hanya meminta dengan yang kita rapat.
Kita hanya mengadu dengan yang kita percaya.

Maka kalau kita rapat dengan Allah, memang Allahlah yang akan kita minta kepadaNya.
Maka kalau kita percaya dengan Allah, memang Allahlah yang kita mengadu kepadaNya.

Doa, mengikat kita lebih rapat dengan Allah SWT.
Doa, adalah tanda kita amat yakin dan percaya, tanpa ragu-ragu, bahawa Allah amat rapat dengan kita.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” Surah Al-Baqarah ayat 186.

Penutup: Maka Berdoalah.

Maka berdoalah. Susunlah doa kita. Fahami apa yang kita doakan. Yakini bahawa Allah akan memakbulkannya. Dan jangan sesekali lupa untuk berusaha dengan sesungguh-sungguhnya. Orang yang selalu berdoa akan tenang. Kerana dia akan melihat, satu persatu doanya dijawab oleh Allah SWT. Orang yang tidak berdoa, mendapat kejayaan pun, dia tidak akan rasa apa-apa ‘nilai tambah’. Dia rasa, dia dapat itu dengan usahanya sendiri. Sebab itu, apabila dia benar-benar ‘mati usaha’, dia akan putus asa dan tidak bangkit semula. Kita, bila ‘mati usaha’, kita tetap merasakan bahawa – Allah itu ada, dan Dia akan membantu kita. Kerana kita sering berdoa kepadaNya.




Monday, November 22, 2010

Pengasas Facebook Lebih Kaya Dari Pengasas Apple

MARK ZUCKERBERG

Mengikut senarai terbaru 400 individu terkaya di Amerika Syarikat (The Forbes 400 : The Richest People in America), kedudukan CEO dan co-founder Facebook.com, Mark Zuckerberg melonjak dari kedudukan 158 ke 35. Kini aset beliau dianggarkan bernilai $6.8 bilion.


Senarai tersebut menunjukkan bahawa kekayaan beliau telah mengalahkan kekayaan CEO dan co-founder Apple, Steve Jobs yang berada di tangga ke-42 dengan $6.8 bilion. Co-founder Microsoft, Bill Gates masih mengungguli carta selama 17 tahun berturut-turut dengan anggaran aset bernilai $54 bilion. Menurut akhbar Guardian, hari ini Mark Zuckerberg akan menderma sebanyak $100 juta untuk memulihkan sistem persekolahan awam di Newark. Newark merupakan salah satu bandar metropolitan terburuk di Amerika Syarikat kerana mempunyai kadar jenayah, korupsi, kemisikinan dan pengangguran yang tinggi.

STEVE JOBS
Perkara Baik Kita Contohi

Melalui berita ini, kita dapat lihat salah satu kelebihan orang kaya. Oleh kerana mereka mempunyai kelebihan dari segi kewangan, mereka mampu membuat perubahan (change) dalam kehidupan orang lain. Ketika zaman Rasulullah SAW, ramai sahabat yang kaya seperi Abdul Rahman Bin Auf dan Tholhah Bin Ubaidillah  menderma kebanyakan dari harta mereka untuk membantu golongan yang memerlukan.
Malah mereka menderma untuk perjuangan Islam. Kita perlu mempunyai azam untuk mencontohi amalan kebajikan yang mereka tunjukkan. Azam sahaja tidak mencukupi, tetapi kita perlu berusaha dan bekerja kuat untuk menjadi manusia yang hebat. "Kekuatan dan kemajuan hanya akan datang melalui usaha dan kerja kuat yang berterusan." - Napoleon Hill

*** Tidak mustahil sebagai orang Islam kita tidak mampu menjadi seperti mereka...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...